Follow Us

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bugis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Bugis. Tampilkan semua postingan

Kawali (Badik) Senjata Tradisional Masyarakat Adat Bugis

Kawali (Badik) Senjata Tradisional Masyarakat Adat Bugis


Badik

Menurut pandangan orang Bugis Makassar, setiap jenis badik memiliki kekuatan sakti (gaib). Kekuatan ini dapat memengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya. Sejalan dengan itu, terdapat kepercayaan bahwa badik juga mampu menimbulkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran ataupun kemelaratan, kemiskinan dan penderitaan bagi yang menyimpannya.

Badik atau badek adalah pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam tunggal atau ganda, dengan panjang mencapai sekitar setengah meter. Seperti keris, bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamor. Namun, berbeda dari keris, badik tidak pernah memiliki ganja (penyangga bilah)

Kawali (Badik): Senjata Tradisional Masyarakat Adat Bugis



Badik merupakan salah satu jenis senjata tradisional yang menjadi identitas budaya suku-suku bangsa di bumi Melayu, termasuk sebagai senjata khas orang-orang Bugis,Makassar, Mandar, dan sejumlah suku bangsa lainnya di Sulawesi Selatan, serta etnis-etnis lainnya yang tersebar di berbagai tempat lainnya. Khusus dalam tradisi orang Bugis, badik dikenal dengan nama kawali.

1. Asal-usul

Seperti halnya keris, badik menjadi jenis senjata tradisional yang dikenal luas dan menjadi senjata khas lebih dari satu suku bangsa yang tersebar di Nusantara, bahkan di regional Asia Tenggara. Selain dikenal sebagai senjata tradisonal suku-suku bangsa di wilayah Sulawesi Selatan, badik ternyata juga menjadi senjata khas di sejumlah wilayah lain di Indonesia, seperti Jambi, Riau, Bengkulu, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Betawi (Jakarta), dan lainnya (http://organisasi.org). Bahkan, badik juga dikenal sampai ke Patani, Thailand bagian Selatan, dan menjadi senjata tradisional di sana. Berbagai jenis badik yang ditemukan di berbagai tempat yang berbeda itu memiliki nama dan ciri khas masing-masing.


Orang Bugis, yang termasuk dalam ras Deutero Melayu, menyebut badik dengan nama kawali. Suku Bugis yang datang setelah gelombang migrasi pertama. Daerah-daerah yang menjadi wilayah orang-orang Bugis di Sulawesi Selatan meliputi Bone (dulu wilayah Kerajaan Bone), Sinjai (dulu ada sejumlah kerajaan di wilayah ini antara lain: Kerajaan Tondong, Kerajaan Bulo-bulo, Kerajaan Lamatti, Kerajaan Turungen, Kerajaan Manimpahoi, Kerajaan Terasa, Kerajaan Pao, Kerajaan Manipi, Kerajaan Suka, dan Kerajaan Bala Suka), Pare-pare, Pangkep, Barru (dulu terdapat beberapa kerajaan di antaranya adalah Kerajaan Berru, Kerajaan Tanete, Kerajaan Soppeng Riaja, Kerajaan Mallusetas), Luwu (bekas wilayah Kerajaan Luwu-Bugis), Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan, Polmas, Pinrang, dan lain sebagainya (http://bugis-online.blogspot.com). Letak geografis dan tradisi orang Bugis juga dekat dengan orang-orang yang dulu menjadi warga Kerajaan Gowa dan Tallo di Makassar (http://id.wikipedia.org).

Wilayah Bugis disebut-sebut sebagai tempat di mana badik berasal dan pada akhirnya dikenal secara luas hingga ke daerah-daerah lain. Keyakinan tersebut dapat ditelisik dari tradisi orang Bugis yang suka menjelajah samudera untuk berdagang maupun merantau dan mengunjungi dunia luar. Aktivitas pelayaran oleh orang-orang Bugis ini memicu terjadinya pertukaran atau perpindahan budaya Bugis ke tempat-tempat yang dikunjungi. Perpindahan budaya ini kemudian berimplikasi pada proses akulturasi budaya yang ditandai dengan persebaran artefak-artefak khas Bugis, di antaranya adalah badik Bugis atau kawali.

Asal-muasal kawali sebenarnya sudah bermula jauh sebelum ajaran Islam masuk ke wilayah Sulawesi Selatan dan menjadi agama mayoritas penduduknya. Nicolas Gervaise, orang Prancis yang pernah diangkat sebagai guru untuk membimbing dua orang pangeran dari Makassar, berkisah bahwa pada zaman dahulu, orang-orang Sulawesi Selatan masih menyembah Dewa Matahari dan Dewa Bulan (Gervaise dalam C. Pelras, 1981:168). Dewa-dewa itu disembah pada pagi hari saat terbitnya matahari dan munculnya bulan pada malam hari. Untuk menghormati dewa-dewa, maka diselenggarakanlah berbagai jenis upacara, ibadah, dan ritual pengorbanan (karoba). Kawali menjadi bagian dari ritual-ritual keagamaan tersebut dan termasuk salah satu benda yang disakralkan.

Orang-orang Sulawesi Selatan pra-Islam juga memuja kalompoang (gaukang) atau arajang. Kata arajangbagi orang Bugis atau kalompoang (gaukang) bagi orang Makassar berarti “kebesaran”. Maksud dari arti tersebut adalah “benda-benda yang dianggap sakti, keramat, dan memiliki nilai magis”. Benda-benda keramat yang biasanya dimiliki oleh raja yang sedang berkuasa tersebut antara lain berwujud badik (kawali), tombak, keris, perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain sebagainya.

Bagi orang asli Bugis, memiliki kawali adalah suatu keharusan, seperti ungkapan dalam bahasa Bugis yang berbunyi: “Taniya ugi narekko de’na punnai kawali”. Ungkapan lokal masyarakat Bugis ini dapat diartikan sebagai berikut: “Bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik.


2. Jenis-jenis Kawali

Berdasarkan motif dan sugesti kegunaannya, kawali atau badik Bugis terdiri dari beberapa jenis. Pengkategorian jenis-jenis kawali atau badik Bugis dibagi ke dalam dua golongan, yakni kawali yang mendatangkan manfaat dan kawali yang bisa menimbulkan atau menandakan kerugian.

Berikut ini adalah beberapa jenis kawali atau badik Bugis yang diyakini dapat mendatangkan faedah yang positif:
  •  Kawali Lamalomo Sugi, jenis kawali atau badik Bugis yang mempunyai motif kaitan pada bilahnya dan  diyakini sebagai senjata yang dapat memberikan kekayaan dan kesejahteraan materi bagi pemiliknya.
  • Kawali Lataring Tellu, mempunyai motif berupa tiga noktah dalam posisi tungku. Kawali atau badik Bugis ini dipercaya akan membawa keberuntungan bagi pemiliknya, yakni tidak akan kekurangan makanan dan tidak akan mengalami duka nestapa. Itulah sebabnya, kawali Lataring Tellu dirasa paling cocok digunakan bagi mereka yang bekerja di sektor pertanian.
  • Kawali Lade’ Nateyai, memiliki pamor berupa bulatan kecil pada bagian pangkal dan guratan berjajar di bagian matanya dan mempunyai motif berbentuk gala pada pangkalnya. Kawali atau badik Bugis ini dipercaya mampu mendatangkan rezeki yang melimpah bagi pemiliknya.
  • Kawali Lagemme’ Silampa, memuat motif berupa urat yang membujur dari pangkal sampai ke ujung dan diyakini sebagai salah satu jenis kawali atau badik Bugis yang sangat ideal. Kawali Lagemme’ Silampa dipercaya senantiasa akan memberikan keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupan bersama dengan segenap keluarga dan para kerabatnya.
  • Kawali Ilakkoajang, memiliki motif guratan di seluruh tubuhnya. Kawali ini adalah jenis badik yang dipercayai sebagai senjata yang mampu mendatangkan wibawa serta derajat yang tinggi bagi pemiliknya.
  • Kawali Lasabbara, kawali atau badik Bugis jenis ini dipercaya dapat mendatangkan sifat-sifat kesabaran bagi si penggunanya.
  • Kawali Lamalomo Rialawengeng, jenis kawali atau badik Bugis yang seperti ini diyakini mampu membuat setia bagi istri pemiliknya dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mempermalukan sang suami.
  • Kawali Latenriwale, kawali atau badik Bugis ini memiliki motif berupa bulatan berbentuk oval pada bagian ujungnya. Kawali Latenriwale dipercaya dapat membangkitkan sifat pantang mundur serta tidak mudah menyerah bagi pemiliknya dalam setiap pertempuran dan mampu mendatangkan kemenangan dalam setiap pertarungan (http://pulaumistik.blogspot.com).

Selain kawali yang dipercaya mampu mendatangkan energi-energi positif, terdapat pula jenis-jenis badik Bugis yang diyakini dapat menimbulkan hal-hal yang buruk bagi pemiliknya atau menandakan perbuatan-perbuatan tercela yang pernah dilakukan oleh si pemegangnya. Beberapa jenis kawali atau badik Bugis yang mengandung unsur-unsur negarif itu antara lain:
  1. Kawali Lasukku Ja’na, jenis kawali atau badik Bugis yang satu ini dianggap sebagai jenis yang sangat buruk dan mengandung kesialan yang dapat menimpa si pemiliknya.
  2. Kawali Latemmewa, juga dianggap sebagai salah satu jenis kawali atau badik Bugis yang sangat tidak baik. Kawali diyakini ini tidak dapat menjaga wibawa dan kehormatan pemiliknya. Menurut kepercayaan, pemilik kawali ini tidak akan melakukan perlawanan kendati ditampar oleh orang lain, atau dengan kata lain, kawali Latemmewa tidak mampu menjaga harga diri si pemegangnya.
  3. Kawali Lamalomo Malaweng Tappi’enngi, dipercaya bahwa jika menyimpan kawali atau badik Bugis jenis ini, istrinya sering atau akan terlibat dalam perbuatan zina dengan lelaki lain. Kawali Lamalomo Malaweng Tappi’enngi ini memiliki motif berupa guratan tanda panah pada bagian pangkalnya (http://pulaumistik.blogspot.com).
     
 3. Bagian-bagian Kawali
Secara umum, kawali atau badik Bugis terdiri dari tiga bagian utama, yakni pangulu (hulu atau gagang), bilah (besi), dan wanua (sarung). Masing-masing kawali atau badik Bugis yang dikenal di sejumlah tempat yang didiami orang-orang Suku Bugis memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda. Jenis badik Bugis dari Bone, misalnya, memiliki bilah yang pipih, ujung runcing dan bentuk agak melebar pada bagian ujung. Sedangkan kawali dari Luwu (badik Bugis dari daerah Luwu, bekas Kerajaan Luwu-Bugis) memiliki bilah yang pipih dan berbentuk lurus.

4. Fungsi Kawali

Kawali atau badik Bugis memiliki beberapa fungsi atau kegunaan sebagai berikut:

a. Sebagai Senjata

Fungsi utama kawali atau badik Bugis adalah sebagai senjata untuk membela diri atau untuk digunakan ketika menghadapi duel. Kawali yang dipakai sebagai senjata biasanya dilengkapi juga dengan racun yang dioleskan pada badan badik. Namun, kadar racun tersebut tergantung tujuan penggunaan kawali itu sendiri, apakah untuk membunuh atau hanya untuk sekadar berduel dalam pertarungan. Kawali yang memang sengaja akan digunakan untuk membunuh lawan tentu saja kadar racunnya lebih tinggi daripada kawali yang dipakai untuk berduel. Sedangkan kawali yang digunakan untuk berduel kadar racunnya lebih rendah atau terkadang tidak mengandung racun sama sekali jika tujuannya hanya untuk melukai musuhnya. Sasaran utama penggunaan kawali dalam pertarungan biasanya untuk menikam pada bagian tengkuk lawan sehingga ujung kawali dibuat keras. Bentuk kawali didesain pula untuk mengiris dan oleh karena itulah bagian sisi kawali biasanya sangat tajam (http://osdir.com).

b. Sebagai Identitas Diri


Menurut pandangan orang Bugis, setiap jenis kawali memiliki kesaktian alias kekuatan gaib. Kekuatan ini dapat mempengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan si pemilik kawali. Selaras dengan hal itu, terdapat kepercayaan dalam keyakinan pada masyarakat adat Bugis bahwa kawali juga mampu mendatangkan ketenangan dan kedamaian lahir maupun batin, kesejahteraan, serta kemakmuran.

Sebaliknya, kawali atau badik Bugis dipercaya pula dapat mendatangkan kesusahan, kemelaratan, kemiskinan, atau kesengsaraan bagi orang yang memilikinya namun tidak benar dalam penggunaannya. Dengan demikian, kawali atau badik tidak hanya difungsikan sebagai senjata untuk membela diri atau untuk aktivitas berburu semata, melainkan juga sebagai salah satu bentuk identitas diri dari suatu komunitas etnis atau kelompok adat, dan hal itu sudah berlangsung sejak berabad-abad yang telah lampau (http://pulaumistik.blogspot.com).

c. Sebagai Benda Pusaka


Kawali atau badik Bugis dapat juga berfungsi sebagai benda pusaka, namun biasanya berlaku bagi kawali yang berusia lama atau mengandung nilai historis tertentu. Kawali sebagai benda pusaka pada umumnya juga dikeramatkan dan disucikan. Akan tetapi, kawali dalam kategori ini tidak boleh digunakan untuk bertarung, apalagi sampai membunuh lawan. Diyakini bahwa kawali pusaka yang pernah dipakai untuk membunuh akan terdapat noda kemarahannya, dan bila dikeluarkan dari sarungnya, maka kawali tersebut akan meminta korban lagi sebagai “makanan”nya. Selain itu, kawali pusaka biasanya berwujud lebih indah dan lebih halus, terkadang diberi tambahan ornamen dari emas atau permata (http://osdir.com).

d. Sebagai Peralatan dalam Upacara Adat

Pada zaman dulu, kawali atau badik Bugis juga menjadi salah satu peralatan yang dipakai dalam ritual pelaksanaan upacara adat, misalnya digunakan pada saat prosesi penyembelihan korban. Oleh karena itu, kawali dianggap sebagai benda yang suci dan harus dibersihkan pada saat-saat tertentu. Selain itu, kawali juga menjadi salah satu perlengkapan dalam event-eventadat Bugis lainnya, misalnya pada saat pelaksanaan upacara pernikahan adat Bugis dan upacara-upacara adat lainnya.

e. Sebagai Peralatan Sehari-hari


Fungsi kawali atau badik Bugis sebagai peralatan sehari-hari juga menjadi fungsi utama selain sebagai senjata. Sejak zaman dulu, orang-orang Bugis menggunakan rencong sebagai salah satu perlengkapan ketika berburu maupun ketika mencari ikan di laut, serta digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti pisau.

f. Sebagai Asesoris atau Cenderamata
Seiring dengan perkembangan zaman, kawali atau badik Bugis menjadi salah satu cenderamata yang banyak diminati oleh para wisatawan sebagai oleh-oleh khas dari tanah Bugis. Kawali yang digunakan sebagai komoditas wisata ini tentunya tidak mengandung unsur-unsur magis tertentu dan biasanya diproduksi dalam jumlah yang banyak dalam bentuk tiruan.

5. Nilai-nilai

Keberadaan kawali atau badik Bugis sebagai salah satu kekayaan budaya dan kearifan lokal tentu saja memuat nilai-nilai yang bermanfaat, baik bagi orang-orang Suku Bugis maupun masyarakat pada umumnya. Berikut ini adalah nilai-nilai positif yang terkandung dalam kawali atau badik Bugis:

a. Nilai Tradisi

Kawali atau badik Bugis adalah senjata tradisional yang menjadi ciri khas dan kebanggaan masyarakat Suku Bugis yang banyak menghuni wilayah Sulawesi Selatan. Kawali tidak saja berfungsi sebagai senjata dan alat berburu saja, melainkan juga dapat berguna sebagai penanda jatidiri orang Bugis, sebagai pusaka yang disakralkan, dan berperan penting dalam prosesi pelaksanaan berbagai ritual adat Bugis. Oleh karena itu, keberadaan kawali dalam konteks tradisi kebudayaan orang Bugis sangat berpengaruh.

b. Nilai Sejarah

Penggunaan kawali bagi orang Bugis sudah berlangsung sangat lama, sejak orang-orang Bugis masih menganut kepercayaan leluhur pada masa pra-Islam. Pada masa ini, kawali menjadi bagian yang sangat penting dalam berlangsungnya upacara-upacara adat. Keberadaan kawali berlanjut pada masa kerajaan di mana senjata tradisional ini menjadi salah satu elemen yang tidak kalah penting dalam koleksi pusaka atau benda-benda kerajaan yang dikeramatkan. Dengan demikian, kawali dalam tradisi orang Bugis memuat unsur historis tidak bisa diabaikan begitu saja.

c. Nilai Seni

Kawali atau badik Bugis merupakan salah satu karya seni hasil karya orang-orang Bugis. Kawali mempunyai jenis yang beragam dengan berbagai motif dan corak yang bermacam-macam pula, sehingga membuat para perajin kawali dapat menuangkan ide kreatifnya dalam membuat kawali. Apalagi saat ini kawali (dalam bentuk replika atau tiruan) sudah menjadi komoditas yang cukup potensial untuk dijadikan sebagai oleh-oleh khas tanah Bugis sehingga para perajin badik semakin leluasa untuk mengembangkan nilai seni kawali.

6. Penutup

Kawali atau badik Bugis merupakan warisan pusaka tradisional yang melengkapi kekayaan tradisi masyarakat adat Bugis. Bagi orang Bugis, memiliki kawali sudah menjadi suatu keharusan karena kawali sudah dianggap sebagai salah satu wujud identitas budaya atau jatidiri bagi setiap orang Bugis.

(Iswara N. Raditya/bdy/02/02-2011)

Referensi

  • “Badik”, dalam http://osdir.com, data diunduh pada tanggal 27 Februari 2011.
  • C. Pelras, 1981. Hubungan Patron-Klien dalam Masyarakat Bugis-Makassar. Paris (Monografi).
  • “Nama Senjata Tradisional Khas Daerah Adat Budaya Nasional, Kebudayaan NusantaraIndonesia”, dalam http://organisasi.org, data diunduh pada tanggal 25 Februari 2011.
  • “Suku Bugis”, dalam http://id.wikipedia.org, data diunduh pada tanggal 27 Februari 2011.
  • http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2682/kawali-senjata-tradisional-masyarakat-adat-bugis
 Busur mengucapkan semoga artikel ini bisa bermamfaat........

 
Published: By: Anak Rantau - 19.50

Songkok Recca’ (Songkok To Bone)

Songkok To Bone


SONKOK TO BONE Songkok Recca’ terbuat dari serat pelepah daun lontar dengan cara dipukul-pukul (dalam bahasa Bugis : direcca-recca) pelepah daun lontar tersebut hingga yang tersisa hanya seratnya. Serat ini biasanya berwarna putih, akan tetapi setelah dua atau tiga jam kemudian warnanya berubah menjadi kecoklat-coklatan. Untuk mengubah menjadi hitam maka serat tersebut direndam dalam lumpur selama beberapa hari.

Jadi serat yang berwarna hitam itu bukanlah karena sengaja diberi pewarna sehingga menjadi hitam. Serat tersebut ada yang halus ada yang kasar, sehingga untuk membuat songkok recca’ yang halus maka serat haluslah yang diambil dan sebaliknya serat yang kasar menghasilkan hasil yang agak kasar pula tergantung pesanan. Untuk menganyam serat menjadi songkok menggunakan acuan yang disebut Assareng yang terbuat dari kayu nangka kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai songkok. Acuan atau assareng itulah yang digunakan untuk merangkai serat hingga menjadi songkok. Ukuran Assareng tergantung dari besar kecilnya songkok yang akan dibuat.

Sejak kapan munculnya Songkok Recca’ (Songkok To Bone)?

Songkok recca’ (songkok to Bone) menurut sejarah, muncul dimasa terjadinya perang antara Bone dengan Tator tahun 1683. Pasukan Bone pada waktu itu menggunakan songkok recca’ sebagai tanda untuk membedakan dengan pasukan Tator.

Pada zaman pemerintahan Andi Mappanyukki (raja Bone ke-31), songkok recca dibuat dengan pinggiran emas (pamiring pulaweng) yang menunjukkan strata sipemakainya. Akan tetapi lambat laun hingga sekarang ini siapapun berhak memakainya. Bahkan beberapa kabupaten di Sulawesi memproduksinya sehingga dapat dikatakan, bahwa songkok recca yang biasa juga disebut sebagai Songkok To Bone yang merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa orang Bone tersebut mendapat apresiasi baik dari masyarakat Sulawesi maupun Indonesia pada umumnya.

Di Kabupaten Bone Songkok Recca/Songkok To Bone diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone. Di daerah tersebut terdapat terdapat komunitas masyarakat secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil prosese mengayam pelepah daun lontar ini yang disibut Songkok Recca atau Songkok To Bone.
Published: By: Anak Rantau - 22.46

Rumah Tradisional Bugis

Rumah Tradisional Bugis Sulawesi Selatan ( Rumah Panggung Kayu )





Saoraja (Rumah Bangsawan)

1. Asal-usul

Rumah Panggung Kayu adalah salah satu rumah tradisional Bugis yang berbentuk persegi empat memanjang ke belakang. Konstruksi bangunan rumah ini dibuat secara lepas-pasang (knock down)sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Konsep empat persegi panjang ini bermula dari pandangan hidup masyarakat Bugis pada zaman dahulu tentang bagaimana memahami alam semesta secara universal. Dalam falsafah dan pandangan hidup mereka terdapat istilah sulapa’ èppa, yang berarti persegi empat, yaitu sebuah pandangan dunia empat sisi yang tertujuan untuk mencari kesempurnaan ideal dalam mengenali dan mengatasi kelemahan manusia (Elizabeth Morrell, 2005: 240). Menurut mereka, segala sesuatu baru dikatakan sempurna dan lengkap jika memilikisulapa’ èppa. Demikian pula pandangan mereka tentang rumah, yaitu sebuah rumah akan dikatakanbola gènnè atau rumah sempurna jika berbentuk segi empat, yang berarti memiliki empat kesempurnaan.

Orang Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang dapat mempengaruhi bentuk rumah mereka, yang ditandai dengan simbol-simbol khusus. Berdasarkan pelapisan sosial tersebut, maka bentuk rumah tradisional orang Bugis dikenal dengan istilah Saoraja (Sallasa) dan Bola. Saoraja berarti rumah besar, yakni rumah yang ditempati oleh keturunan raja atau kaum bangsawan, sedangkan bola berarti rumah biasa, yakni rumah tempat tinggal bagi rakyat biasa (Izarwisma Mardanas, dkk., (ed.), 1985: 24).

Dari segi struktur dan konstruksi bangunan, kedua jenis rumah tersebut tidak memiliki perbedaan yang prinsipil. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran rumah dan status sosial penghuninya. Pada umumnya, Saoraja lebih besar dan luas daripada Bola yang biasanya ditandai oleh jumlah tiangnya. Saoraja memiliki 40 – 48 tiang, sedangkan Bola hanya memiliki 20 – 30 tiang. Sementara perbedaan status sosial penghuninya dapat dilihat pada bentuk tutup bubungan atap rumah yang disebut dengan timpak laja. Bangunan Saoraja memiliki timpak laja yang bertingkat-tingkat yaitu antara 3 - 5 tingkat, sedangkan timpak laja pada bangunan Bola tidak bertingkat alias polos (Izarwisma, dkk., [ed.], 1985: 27). Semakin banyak jumlah tingkat timpak laja sebuah Saoraja, semakin tinggi pula status sosial penghuninya.





Rumah bagi orang Bugis tidak sekedar tempat tinggal atau obyek materiil yang indah dan menyenangkan. Menurut Y.B. Mangunwijaya, pendirian rumah tradisional Bugis lebih diarahkan kepada kelangsungan hidup manusia secara kosmis. Oleh karena itu, konstruksi rumah tradisional Bugis sangat dipengaruhi oleh pemahaman atas struktur kosmos.

Menurut pandangan hidup masyarakat Bugis zaman dahulu, alam raya (makrokosmos) tersusun atas tiga tingkatan, yaitu alam atas (botting langik), alam tengah (lino), dan alam bawah (uriliyu). Alam atas adalah tempat para dewa yang dipimpin oleh satu dewa tertinggi bernama Dewata SeuwaE (Dewa Tunggal). Alam tengah adalah bumi yang dihuni oleh para wakil dewa tertinggi untuk mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi, serta mengatur jalannya tata tertib kosmos. Alam bawah adalah tempat yang paling dalam yaitu berada di bawah air .Berdasarkan pandangan hidup tersebut, maka konstruksi rumah tradisional Bugis harus terdiri tiga tingkatan, yaitu rakkeang (alam atas), alè bola (alam tengah), awa bola (alam bawah), di mana keseluruhan bagian tersebut masing-masing memiliki fungsi.

Untuk mendirikan rumah adat Bugis, diperlukan peran seorang Sanro Bola atau dukun rumah. Sanro Bola dianggap menguasai ilmu pengetahuan tentang tata cara pengerjaan rumah, mulai dari pemilihan lokasi dan waktu, jenis kayu, arah letak rumah, dan pengerjaan elemen-elemen atau ornamen bangunan rumah hingga pada konstruksi serta segala pelengkapnya. Selain itu, Sanro Bola juga mengetahui cara-rara mengusir makhluk-makhluk halus melalui doa dan mantra-mantra. Menurut keyakinan orang Bugis, kayu yang akan ditebang untuk tiang dan tempat untuk mendirikan rumah terkadang dihuni oleh makhluk-makhluk halus dan roh-roh jahat. Oleh karena itu, penghuni rumah harus meminta bimbingan kepada seorang Sanro Bola. Jika tidak, maka si penghuni rumah kelak akan ditimpa penyakit, malapetaka, atau meninggal dunia (Nurhayati Djamas, 1998: 74).

Tradisi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan mendirikan rumah senantiasa mempertimbangkan keselamatan. Mereka percaya bahwa hidup selaras dan harmoni dengan tatanan kehidupan alam akan mendatangkan ketenangan, kesejahteraan, dan kedamaian. Sebaliknya, manusia yang menyimpang dari tatanan dan aturan tersebut niscaya akan mendapatkan sangsi atau hukuman berupa malapetaka. Untuk itulah, mereka senantiasa menjaga keselarasan dengan alam melalui tanda-tanda atau simbol, yaitu berupa mitos asal dan upacara-upacara ritual. Menurut Waterson (dalam Robinson, 2005: 273), praktik-pratik ritual tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Bugis telah menyatu dengan kosmos makhluk lainnya.


                                                              Bola Ogi (Rumah Rakyat Biasa)


2. Bahan-bahan dan Tenaga

a. Bahan-bahan

Ketika hendak mendirikan rumah, orang Bugis selalu selektif dalam memilih bahan atau kayu yang bermutu dan bernilai filosofi. Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk membangun Rumah Panggung Kayu di antaranya:
Aju panasa (kayu nangka). Kayu ini biasanya khusus digunakan untuk tiang pusat rumah (posi bola).
Aju bitti, aju amara, dan aju jati. Ketiga jenis kayu ini dapat digunakan untuk keseluruhan tiang, selain tiang pusat rumah. Namun jika menggunakan kayu jati, jumlahnya harus lebih dari satu, karena kata jati oleh orang Bugis ditafsirkan sebagai maja ati (berhati jelek atau jahat). Selain itu, banyak orang yang akan iri dan dengki kepada si pemilik rumah jika menggunakan kayu jati.
Aju ipi, aju seppu, dan batang kelapa. Ketiga jenis kayu ini digunakan untuk arateng, yaitu balok pipih panjang berderet ke belakang yang berfungsi mengikat tiang pada bagian tengah rumah. Ketiga jenis kayu ini juga digunakan untuk membuat pattolo riawa, yaitu balok pipih panjang yang berfungsi mengikat deretan tiang bagian tengah dari arah kanan ke kiri; dan aju lekke, yaitu balok panjang yang terletak paling atas dan berfungsi untuk menyangga atau menahan kerangka atap.
Aju tippulu dan batang lontar. Kedua jenis kayu ini digunakan untuk membuat pare’, yaitu balok pipih panjang berderet ke belakang sejajar dengan arateng yang berfungsi mengikat tiang-tiang sebelah atas. Panjangnya sama dengan panjang aju lekke. Selain itu, jenis kayu ini juga digunakan untuk membuat pattolo riase/padongko, yaitu balok pipih panjang yang mengikat ujung tiang bagian atas sejajar dengan pattolo riawa; dan tanebba’, yaitu balok berukuran kecil sebagai dasar dari lantai rumah dan berfungsi menahan papan yang akan menjadi lantai rumah.
Aju cendana. Jenis kayu ini digunakan untuk membuat barakkapu, yaitu balok kecil yang merupakan dasar dari lantai rakkeang (loteng).
Bambu, digunakan untuk membuat addeneng (tangga), salima (lantai), dan rènring (dinding).
Daun rumbia, ijuk, nipah, ilalang, digunakan untuk membuat atap. Ijuk dan nipah biasanya digunakan khusus untuk Saoraja, sedangkan daun rumbia dan ilalang digunakan untuk Bola. Dalam perkembangannya, saat ini sudah banyak yang menggunakan seng, sirap, dan genteng.

b. Tenaga

Sebelumnya disebutkan bahwa masyarakat tradisional Bugis senantiasa mempertimbangkan keselamatan ketika akan mendirikan rumah. Oleh karena itu, mereka harus memilih tenaga ahli yang mengerti seluk-beluk adat istiadat mendirikan rumah agar terhindar dari malapetaka. Secara garis besar, tenaga yang terlibat dalam kegiatan mendirikan Rumah Panggung Kayu dibagi atas tiga macam (Mardanas, dkk. [ed.], 1985: 53), yaitu:
Sanro Bola (dukun rumah), yaitu orang yang dianggap ahli tentang tipe-tipe bangunan, nilai-nilai yang terkandung dalam bangunan itu, serta mengetahui jenis-jenis kayu yang cocok untuk digunakan. Keahlian Sanro Bola tersebut diperoleh melalui pengalaman yang ditopang oleh ilmu yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek moyang. Pewarisannya bisa melalui praktek langsung ataupun secara tertulis berupa naskah Lontarak khusus mengenai rumah. Sanro Bolabertugas mempimpin pendirian rumah dari awal hingga selesai. Secara rinci, tugasnya adalah mengetahui jumlah bahan, biaya, dan tukang yang dibutuhkan, tipe-tipe kayu yang cocok, serta waktu dan tempat yang baik.
Panre Bola (tukang), yaitu orang yang terampil dan mengetahui teknik membuat rumah, yang biasanya tanpa menggunakan gambar. Namun, ia bekerja berdasarkan petunjuk Sanro Bola.
Tenaga pembantu umum, yaitu tenaga pembantu yang terdiri dari keluarga dekat pemilik rumah, baik dari pihak suami maupun istri, dan tetangga terdekat. Tenaga pembantu umum ini hanya bekerja pada waktu-waktu tertentu, yaitu ketika ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang banyak, seperti mappakkatang (menyerut), mappatama arateng dan pattolo (mamasang kerangka rumah), dan mappatettong bola (mendirikan kerangka rumah). Tenaga pembantu ini bekerja secara sukarela sebagai bentuk solidaritas tanpa mengharapkan balasan, yang dalam bahasa Bugis disebut dengan situru-turungi.

3. Tahapan Mendirikan Rumah Panggung Kayu


a. Tahap Persiapan

Tahap persiapan mendirikan Rumah Panggung Kayu dimulai dari musyawarah keluarga. Dalam pertemuan ini dibicarakan mulai dari tipe dan ukuran rumah, waktu dan tempat mendirikan rumah, bahan dan biaya yang dibutuhkan, hingga ke pembagian tugas (baik tugas individu maupun berkelompok). Persoalan pertama yang dibicarakan adalah status sosial calon penghuni rumah, sebab status sosial tersebut sangat menentukan tipe dan bentuk rumah yang akan dibangun.

Kedua, menentukan ukuran rumah. Sedikitnya ada dua cara untuk menentukan ukuran rumah, yaitu diukur secara spasial vertikal (tinggi bagian bawah, tengah, dan atas), dan spasial horizontal (panjang dan lebar). Secara spasial vertikal, ukuran tinggi bagian bawah (kolong) dan bagian tengah (alè bola/badan rumah) diambil dari ukuran tinggi suami penghuni rumah, yaitu diukur dari ujung kaki hingga telinga dalam posisi berdiri, kemudian diukur dari lantai sampai mata dalam posisi duduk. Hasil dari kedua pengukuran tersebut kemudian dijumlahkan. Sementara untuk ukuran bagian atas (puncak rumah) diambil dari seperdua panjang pattolo riase, lalu ditambah dua jari dari istri penghuni rumah. Misalnya, panjang pattolo riase 7 m, maka tinggi puncak rumah itu 7/2 + 2 jari istri penghuni rumah. Secara spasial horizontal, ukuran panjang dan lebar rumah biasanya menggunakan rèppa (depa) danjakka (jengkal) penghuni rumah.

Ketiga, menentukan waktu. Orang Bugis meyakini bahwa terdapat waktu yang baik dan buruk dalam memulai sesuatu pekerjaan. Oleh karena itu, pemilihan waktu sangat penting untuk memastikan hasil positif suatu usaha (Robinson, 2005: 282). Ketika hendak mendirikan rumah, orang Bugis selalu mencari waktu yang baik, dengan harapan si penghuni rumah akan selamat, murah rezeki, dan segala yang dicita-citakan akan tercapai. Waktu-waktu yang dianggap baik, di antaranya mappongngi Arabae(hari Rabu pertama pada setiap bulan), cappu Kammisi (setiap hari Kamis terakhir setiap bulan). Adapun waktu-waktu yang dianggap buruk, yaitu mula Kammisi (hari Kamis pertama pada setiap bulan), cappu Araba (hari Rabu terakhir setiap bulan), hari Senin yang bertepatan hari ke-13 sampai ke-16 setiap bulan, dan uleng taccipi atau bulan terjepit (bulan yang diapit oleh Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, yaitu bulan Zulkaidah). Menurut Robinson, bulan-bulan yang dianggap buruk dalam penanggalan Islam adalah Muharram, Raibi’ul-awal, Jumadil-akhir, dan Syawal (Robinson, 2005: 282).

Keempat, menentukan tempat dan arah rumah. Tanda-tanda tanah yang dianggap baik untuk mendirikan rumah di antaranya memiliki kemiringan (di mana air bisa mengalir), rasanya kemanis-manisan, dan tidak ditemukan sarang ani-ani (rayap). Setelah itu, tanah tersebut harus diuji kecocokannya dengan si penghuni rumah, yaitu dengan cara meletakkan sebuah bila (buah maja) yang berisi air pada tempat di mana akan diletakkannya posi bola selama satu malam. Jika volume air dalambila tersebut tidak bertambah, maka itu pertanda baik. Tetapi jika airnya tetap, maka hal itu berarti tidak baik. Untuk arah rumah, topografi tanah juga sangat menentukan. Bila tanahnya miring ke utara, maka rumah harus menghadap ke timur dengan pertimbangan ketentuan adat bahwa air limbah harus mengalir ke kiri. Setelah mendapat pengaruh ajaran Islam, arah rumah yang paling baik adalah menghadap ke selatan dengan anggapan bahwa Ka’bah yang berada di sebelah barat tidak boleh searah dengan kaki pada waktu tidur (Mardanas, dkk., (ed.), 1985: 73).

b. Tahap Pengumpulan Bahan

Bahan-bahan yang diperlukan untuk mendirikan rumah Bugis biasanya diperoleh dengan cara ditebang sendiri oleh penghuni rumah, atau dibeli melalui pedagang berdasarkan petunjuk seorang Sanro Bola. Bahan yang pertama kali dicari adalah kayu untuk tiang posi bola (tiang rumah). Bagi masyarakat Bugis,posi bola merupakan soko guru bagi sebuah rumah. Oleh karena itu, bahannya harus dipilih dari pohon atau kayu yang kuat, buahnya enak dimakan, mudah didapatkan, dan memiliki nilai filosofi yang tinggi, misalnya aju panasa (kayu nangka). Panasa dalam bahasa Bugis ditafsirkan sebagai ripomanasai, yaitu “dicita-citakan”. Hal ini mengandung harapan agar apa yang dicita-citakan oleh si penghuni rumah dapat tercapai. Namun, jika kayu untuk tiang pusat ini dibeli dari pedagang, maka yang dipilih adalah kayu nangka yang disebut kalole, yaitu kayu yang masih utuh (belum pernah dibelah). Hal ini juga mengandung harapan agar si penghuni rumah senantiasa dalam keadaan utuh atau sempurna dan tidak pernah kekurangan selama menempati rumah itu (Mardanas, dkk., (ed.), 1985: 41).

Setelah tiang untuk posi bola diperoleh, barulah dimulai mencari kayu untuk tiang-tiang lainnya, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan arateng, pattolo, dan lain-lain. Namun yang perlu diperhatikan ketika memilih bahan-bahan tersebut adalah harus kayu yang berkulitas tinggi dan bernilai filosifis, misalnya kayu yang tidak pernah kena petir, ujung atau dahannya tidak bergesekan dengan dahan pohon lain, tidak menindih makhluk hidup (apalagi manusia) saat kayu itu ditebang, tidak dililit oleh tumbuhan lain, dan tidak dilobangi oleh kumbang.

c. Tahap Pembangunan

Setelah bahan-bahan yang diperlukan terkumpul, maka tahap selanjutnya adalah pembuatan kerangka rumah, yang terdiri dari tiga bagian, yaitu awa bola (bagian bawah), alè bola (bagian tengah), dan rakkeang (loteng). Kerangka rumah merupakan bagian terpenting karena merupakan bagian yang menentukan kokoh atau tidaknya sebuah Rumah Panggung Kayu. Bahan untuk bagian bawah meliputialiri, aratèng, pattolo riawa; bagian tengah meliputi parè, tanebba, pattolo riase; dan bagian atas meliputiaju lekkè, barakkapu, patteppo barakkapu, dan aju te. Untuk itu, sebelum dilicinkan dengan menggunakan serut, bahan-bahan untuk kerangka ini biasanya direndam dalam air sungai atau rawa-rawa dalam waktu berminggu-minggu, yang dalam istilah Bugis disebut ibellang. Hal ini bertujuan agar bahan-bahan tersebut menjadi kuat dan padat sehingga tidak mudah dimakan rayap atau serangga lainnya selama rumah tersebut ditempati.


Kerangka Saoraja tampak dari sebelah kanan

1. Pembuatan Aliri (Tiang)

Pembuatan aliri dimulai dari membuat aliri posi bola (tiang pusat rumah). Posisi tiang pusat rumah ini terletak pada baris ketiga dari depan dan baris kedua dari samping kiri. Posi bola ini menyimbolkan wanita, yaitu sebagai pemegang kendali dalam rumah tangga. Oleh karena itu, kayu yang digunakan tidak boleh asal pilih. Bagian penting lain yang perlu diperhatikan ketika memilih kayu untuk posi bolaadalah pasu, yaitu bekas cabang dari pohon itu. Dalam keyakinan orang Bugis, pasu tersebut dapat mendatangkan manfaat ataupun malapetaka bagi penghuninya. Menurut Robinson (2005: 294), sebagian besar pasu mengarah kepada hal-hal negatif yang dapat mendatangkan malapeta.

Di antara pasu yang mendatangkan manfaat adalah pasu parekkuseng, yang berarti gadis-gadis di rumah itu mudah mendapat jodoh, dan pasu cabberu (tersenyum), yaitu membuat penghuni senantiasa bergembira. Adapun pasu yang membawa malapetaka di antaranya: pasu wuju (mayat), rumah tersebut sering menyebabkan kematian; pasu tomalasa (orang sakit), menyebabkan penghuni sering sakit; pasu garèppu (menghancurkan), menyebabkan tuan rumah sakit-sakitan; dan pasu panga(pencuri), menyebabkan rumah tersebut dimasuki pencuri (Mardanas, dkk., (ed.), 1985: 42).

2. Pembuatan Tiang Pakka (Cabang)

Tiang pakka atau cabang adalah tiang yang berfungsi sebagai penyangga tangga depan. Tiang ini menyimbolkan laki-laki, yaitu sebagai pencari nafkah yang setiap hari harus melewati tangga dan pintu depan. Setelah kedua tiang tersebut selesai, maka dilanjutkan dengan pembuatan tiang-tiang lainnya yang berjumlah sekitar 20 buah untuk bangunan Bola (rumah orang biasa). Deretan tiang ke samping dan ke belakang masing-masing berjumlah lima buah. Jarak deretan tiang ke belakang harus lebih besar daripada deretan tiang yang ke samping. Itulah sebabnya, meskipun jumlah tiang ke samping dan ke kanan sama, rumah ini tetap berbentuk persegi empat panjang.

3. Pembuatan Parewa Mallepang

Parewa mallepang adalah bahan-bahan yang berbentuk pipih, misalnya arateng, parè, pattolo, aju lekkè, pattepo barakkapu, tanèbba, aju te, dan termasuk pula balok-balok kecil. Oleh karena membuat parewa mallepang memerlukan tenaga yang banyak, maka si pemilik rumah biasanya mengundang sanak saudara atau tetangga dalam acara mappakkatang, yaitu melicinkan kayu dengan menggunakan serut. Namun, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, kini pekerjaan ini hanya dilakukan oleh para tukang dengan menggunakan mesin serut.

4. Mappattama Aratèng dan Patttolo

Mappattama aratèng dan patttolo, yaitu merangkai kerangka rumah dengan cara memasukkan aratèngdan pattolo pada tiang-tiang yang telah dilubangi, dan semuanya harus dimulai dari posi bola. Yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah semua pangkal kayu untuk aratèng harus berada di depan, sedangkan untuk pangkal kayu pattolo harus berada di samping kanan.

5. Mappatettong Bola (Mendirikan Kerangka Rumah)

Untuk mendirikan kerangka rumah, si pemilik rumah harus mengundang sanak keluarga dan tetangga karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang banyak. Mendirikan kerangka rumah harus dimulai dari deretan tiang di mana terdapat posi bola yang dipimpin oleh Sanro Bola, dan kemudian disusul oleh deretan tiang-tiang lainnya. Setelah itu, mulailah dipasang pattolo riawa dan pattolo riase untuk menahan deretan tiang agar tidak rebah. Setelah kerangka rumah berdiri, maka dipasanglahbarakkapu, yaitu balok kecil-kecil yang merupakan lantai rakkeang. Kemudian disusul dengan pemasangan kerangka tempat meletakkan atap, dan atap rumah.

6. Pemasangan Pelengkap Rumah

Setelah kerangka rumah berdiri, maka proses pembuatan rumah dilanjutkan dengan pemasangan pelengkap rumah dan ornamen-ornamen lainnya agar menjadi sebuah rumah yang layak dan aman untuk ditempati, di antaranya:
Addeneng, yaitu tangga sebagai jalan untuk masuk ke rumah. Menurut tempatnya, addenengdibagi menjadi tiga, yaitu addeneng pangolo (tangga depan) sebagai jalan utama masuk ke dalam rumah; addeneng monri (tangga belakang) sebagai jalan alternatif bagi penghuni rumah jika ada urusan di belakang rumah; dan addeneng rakkeang (tangga loteng) sebagai jalan naik ke loteng untuk menyimpan hasil panen. Addeneng rumah bangsawan (Saoraja) biasanya menggunakan luccureng, yaitu tempat berpegang ketika akan naik atau turun dari rumah. Bagi orang Bugis, kayu cendana tidak boleh dijadikan tangga, karena dianggap rajanya kayu yang tidak boleh diinjak.

Tanèbba, yaitu balok kecil-kecil yang disusun sejajar dengan pattolo dan berfungsi sebagai dasar lantai.
Dapara, yaitu lantai rumah yang biasanya terbuat dari kayu (papan) dan bambu yang biasa disebut salima (bambu yang telah dibelah kecil-kecil).

Rènring, yaitu dinding yang biasanya terbuat dari kayu atau papan (katabang), bambu (dèdde), dan daun kelapa atau nipah (addada). Menurut tempatnya, rènring dibagi menjadi empat bagian, yaitu rènring pangolo (dinding depan), rènring uluang (dinding hulu, terletak di bagian kepala saat tidur), rènring monri (dinding belakang), dan rènring tamping (dinding hilir, terletak di bagian kaki saat tidur).

Tangè, yaitu pintu yang digunakan sebagai jalan masuk/keluar rumah. Pintu ini menurut tempatnya terdiri dari dua, yaitu pintu depan dan pintu belakang.

Tellongèng, yaitu jendela yang digunakan untuk melihat keluar rumah dan sebagai ventilasi rumah. Jendela ini terletak pada dinding dan diapit dua buah tiang.

4. Bagian-Bagian Rumah Panggung Kayu

Secara garis besar, Rumah Panggung Kayu dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu secara spasial vertikal dan spasial horizontal. Secara spasial vertikal, Rumah Panggung Kayu digolongkan menjadi:
Rakkeang, yaitu bagian atas rumah yang berada di bawah atap atau langit-langit (eternit). Bagian atau ruang ini biasanya digunakan untuk menyimpan hasil panen dan benda-benda pusaka.
Alè bola, yaitu badan rumah yang terdiri dari lantai dan dinding, yang terletak antara lantai dan loteng. Pada bagian ini dibuat sekat-sekat sehingga terbentuk ruang-ruang khusus seperti ruang tamu, ruang tidur, dapur, dan lain-lain.
Awa bola atau kolong rumah, yaitu bagian rumah yang berada di antara lantai dengan tanah. Bagian ini biasanya digunakan untuk menyimpan alat-alat mata pencaharian dan untuk berternak unggas, seperti ayam dan itik.




Kerangka Bola Ogi secara spasial vertikal tampak dari depan

Dari ketiga bagian rumah tersebut, alè bola atau badan rumah merupakan bagian yang terpenting dari Rumah Panggung Kayu, karena bagian ini merupakan tempat tinggal dan melakukan aktivitas sehari-hari. Maka secara spasial horizontal, bagian alè bola ini dibagi berdasarkan lontang atau lattè (petak) menjadi tiga bagian, yaitu:
Lontang risaliwèng, yaitu bagian depan yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu, tempat tidur tamu (biasanya dibuatkan sebuah kamar khusus), tempat bermusyawarah, dan tempat membaringkan mayat sebelum dikebumikan. Sebagai tempat berkomunikasi dengan orang luar, biasanya ruang ini dilengkapi dengan kursi atau sofa dan perabot rumah tangga. Foto-foto keluarga juga dipajang di ruangan untuk menambah keindahan dan kenyamanan tamu.
Lontang ritèngngah, yaitu ruang tengah yang berfungsi sebagai tempat tidur kepala keluarga bersama isteri dan anak-anaknya yang belum dewasa. Ruang ini sifatnya sangat kekeluargaan karena di ruangan inilah terjadi hubungan sosial antara sesama anggota keluarga.
Lontang rilalèng, yaitu ruang belakang yang berfungsi sebagai tempat tidur anak gadis, nenek/kakek, atau anggota keluarga yang dianggap perlu perlindungan atau perawatan dari seluruh keluarga.

Selain ketiga bagian atau ruang-ruang tersebut, rumah tradisional Bugis biasanya ditambahkan ruang khusus, seperti jongke/dapurang (dapur), tamping (serambi), dan lego-lego (teras). Jongke adalah ruang tambahan khusus yang dibuat untuk tempat memasak, dan penyimpanan peralatan rumah tangga. Di ruangan ini biasanya juga dibuat sebuah kamar kecil untuk keluarga. Ruangan ini terletak di bagian belakang rumah induk. Tamping adalah ruang tambahan di bagian samping kiri dan kanan rumah induk dengan bentuk memanjang ke belakang, yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang atau hasil panen. Sedangkan lego-lego adalah ruang tambahan yang dibuat di depan rumah induk. Ruang tambahan ini berfungsi sebagai tempat keluarga bersenda gurau dan tempat duduk tamu sebelum dipersilakan masuk ke dalam rumah.

5. Ragam Hias dan Ornamen

Ragam hias pada Rumah Panggung Kayu tidak hanya sebagai perhiasan, tetapi juga mempunyai simbol status sosial bagi pemiliknya dan mengandung nilai-nilai filosofis yang tinggi. Seperti halnya rumah-rumah tradisional pada umumnya, ragam hias rumah tradisional ini mengambil pola dasar dari corak alam, flora, dan fauna. Ragam hias flora yang paling menonjol pada rumah tradisional Bugis adalah bunga parenreng, artinya bunga yang menarik. Jenis bunga ini hidup dengan cara melata dan menjalar ke mana-mana bagai tak ada putus-putusnya. Hal ini mengandung makna bahwa si penghuni rumah akan mendapat rezeki yang tidak ada putus-putusnya. Ragam hias ini biasanya ditempatkan pada jendela, induk tangga, dan tutup bubung (timpak laja). Penempatan ragam hias ini pada tempat-tempat yang mudah dilihat dimaksudkan sebagai penguat keyakinan bagi si penghuni rumah, bahwa rezeki akan terus mengalir jika mereka senantiasa berusaha (Mardanas, dkk., (ed.), 1985: 55-56).

Ragam hias fauna yang menonjol pada rumah tradisional Bugis terdapat tiga macam, yaitu ragam hias ayam jantan, kepala kerbau, dan naga. Ragam hias ayam jantan merupakan simbol keuletan dan keberanian, sedangkan kepala kerbau adalah simbol kekayaan dan ketinggian status sosial pemiliknya. Ragam hias kepala kerbau ini biasanya terdapat pada rumah raja/bangsawan (Saoraja). Adapun ragam hias bentuk naga merupakan simbol wanita yang lemah lembut tapi memiliki kekuatan dahsyat. Bentuk ragam hias fauna ini pada umumnya ditempatkan pada bubungan atap rumah atau timpak laja.


Ragam hias Saoraja dengan corak ayam jantan

6. Nilai-Nilai

Nilai-nilai yang terkandung dalam arsitektur Rumah Panggung Kayu di antaranya adalah nilai falsafah, status sosial, estetika, dan kesatuan hidup keluarga. Nilai yang paling mendasar pada konstruksi rumah ini adalah nilai falsafah, yaitu pandangan kosmologi orang Bugis yang menganggap bahwa makrokosmos terdiri atas tiga tingkat. Perwujudan dari pandangan ini dapat dilihat pada konstruksi bangunan rumahnya yang dipandang sebagai mikrokosmos, yang terdiri dari tiga tingkat yaiturakkeang, alè bola, dan awa bola. Mereka beranggapan bahwa menjaga keharmonisan makrokosmos dengan mikrokosmos niscaya akan mendatangkan ketenangan, kesejahteraan, dan kedamaian.

Nilai status sosial pada bangunan Rumah Panggung Kayu dapat dilihat pada bentuk timpak laja atau tutup bubungan rumahnya. Bentuk tutup bubungan rumah bangsawan (Saoraja) bertingkat-tingkat, sedangkan bubungan rumah rakyat biasa (Bola) bentuknya polos. Perbedaan lain juga dapat dilihat dari bentuk tangga, di mana tangga rumah bangsawan memiliki luccureng (tempat berpegang), sedangkan tangga rumah orang biasa tidak ada. Demikian pula pada ukuran rumah, di mana rumahbangsawan umumnya lebih besar daripada rumah orang biasa. Perbedaan-perbedaan tersebut menunjukkan bahwa di dalam masyarakat orang Bugis terdapat perbedaan status sosial.

Nilai yang tak kalah menariknya dari bangunan Rumah Panggung Kayu ini adalah nilai estetikanya. Bentuknya persegi empat panjang dan ditopang oleh tiang-tiang yang diatur rapi. Seluruh sisi-sisinya dibalut dinding-dinding dan dilengkapi dengan jendela, dan bagian atasnya ditutup dengan atap yang berbentuk prisma. Nilai estetika lainnya terdapat pada kesatuan dan keserasian pelengkapnya. Hal ini terlihat pada keserasian antara besar tiang dengan tebal pattolo dan aratèng, antara tinggi kolong dengan tinggi dindingnya, maupun keserasian antara besar badan rumah dengan tinggi puncaknya. Selain itu, rumah tradisional Bugis juga dilengkapi dengan ragam hias yang meliputi corak alam, flora, dan fauna, yang semuanya memiliki nilai estetika dan arti simbolik.

Bangunan rumah tradisional Bugis ini juga mengandung nilai kesatuan hidup keluarga, yaitu kesatuan hidup suami istri dalam berumah tangga. Bagi orang Bugis, sebuah rumah akan dianggap sempurna jika memiliki dua tiang utama, yaitu tiang posi bola dan tiang pakka. Tiang posi bola menyimbolkan wanita (ibu rumah tangga) yang bertugas menyimpan dan mengelola semua nafkah yang diperoleh suami, serta menjaga keharmonisan keluarga. Sementara tiang pakka sebagai sandaran tangga menyimbolkan laki-laki (kepala rumah tangga) yang bertugas memikul tanggung jawab keluarga, yakni mencari nafkah. Oleh karena itu, jika kepala rumah tangga ingin menaikkan atau memasukkan bahan kebutuhan rumah tangga ke dalam rumah, maka ia harus melalui tangga depan.

7. Penutup

Arsitektur Rumah Panggung Kayu merupakan perwujudan nilai-nilai yang dianut dan dipelihara oleh masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Nilai-nilai tersebut antara lain adalah nilai falsafah hidup tentang kosmologi, nilai sosial, nilai estetika, dan nilai tatanan hidup berumah tangga. Sebagai hasil karya, rumah tradisional Bugis ini niscaya akan mengalami perubahan. Di daerah perkotaan, arsitektur rumah ini cenderung mengalami perubahan, baik karena pengaruh dari luar maupun bentuk topografi tanah di kota yang relatif sempit. Meski demikian, rumah-rumah di perkotaan masih memperlihatkan nilai arsitektur Bugis, misalnya masih menggunakan timpak laja atau tutup bubungan untuk memberi identitas sosial bagi penghuninya. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam arsitektur Rumah Panggung Kayu masih mampu bertahan hingga zaman modern ini.


Referensi

Elizabeth Morrel. 2005. “Simbolisme, ruang, dan tatanan sosial”, dalam Tapak-tapak waktu: kebudayaan, sejarah, dan kehidupan sosial di Sulawesi Selatan. Makassar: ININNAWA.
Izarwisma Mardanas, dkk. 1985. Arsitektur tradisional daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Proyek Inventarisassi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayan.
Kathryn Robinson. 2005. “Tradisi membangun rumah di Sulawesi Selatan”, dalam Tapak-tapak waktu: kebudayaan, sejarah, dan kehidupan sosial di Sulawesi Selatan. Makassar: ININNAWA.
Nurhayati Djamas. 1998. Agama orang Bugis. Jakarta: Badan dan Pengembangan Agama Departemen Agama RI.

Sumber Dari Intenet
http://melayuonline.com
Published: By: Anak Rantau - 20.43

Perahu Pinisi

Perahu Pinis



Perahu Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan tepatnya dari desa Bira kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba. Pinisi sebenarnya merupakan nama layar. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. Dua tiang layar utama tersebut berdasarkan 2 kalimat syahadat dan tujuah buah layar merupakan jumlah dari surah Al-Fatihah. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang dan juga mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia.


Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakan kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai.

Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Lemo dan Bira. Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi. Orang Ara adalah pembuat badan kapal, di Tana Lemo kapal tersebut dirakit dan orang Bira yang merancang kapal tersebut menjadi Pinisi dan ketujuh layar tersebut lahir dari pemikiran orang-orang Bira.

Konon, nama Pinisi ini diambil dari nama seseorang yang bernama Pinisi itu sendiri. Suatu ketika beliau berlayar melewati pesisir pantai Bira. Beliau melihat rentetan kapal sekitar laut sana, dia kemudian menegur salah seorang nahkoda kapal tersebut bahwasanya layar yang digunakannya masih perlu diperbaiki. Sejak saat itu orang Bira berfikir dan mendesain layar sedemikian rupa dan akhirnya berbentuk layar Pinisi yang seperti sekarang ini. Atas teguran orang tersebut maka orang-orang Bira memberi layar itu dengan nama Pinisi.

Ritual Pembuatan Perahu Pinisi

Upacara kurban untuk pembuatan perahu pinisi adalah salah satu dimana kemegahan pinisi dilahirkan.Para pembuat perahu tradisional ini, yakni: orang-orang Ara, Tana Lemo dan Bira, yang secara turun temurun mewarisi tradisi kelautan nenek moyangnya. Upacara ritual juga masih mewarnai proses pembuatan perahu ini, Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimai dalle’na) yang artinya rezeki sudah ditangan. Sedangkan angka 7 (natujuangngi dalle’na) berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik, lalu kepala tukang yang disebut "punggawa" memimpin pencarian.

Sebelum pohon ditebang, dilakukan upacara untuk mengusir roh penghuni kayu tersebut. Seekor ayam dijadikan sebagai korban untuk dipersembahkan kepada roh. Jenis pohon yang ditebang itu disesuaikan dengan fungsi kayu tersebut. Pemotongan kayu untuk papan selalu disesuaikan dengan arah urat kayu agar kekuatannya terjamm. Setelah semua bahan kayu mencukupi, barulah dikumpulkan untuk dikeringkan.Pembuatan perahu pinisi di Tanah Beru.

Peletakan lunas juga memakai upacara khusus. Waktu pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Setelah dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Karena itu, pemotongan harus dilakukan oleh orang yang bertenaga kuat.

Ujung lunas yang sudah terpotong tidak boleh menyentuh tanah. Bila balok bagian depan sudah putus, potongan itu harus dilarikan untuk dibuang ke laut. Potongan itu menjadi benda penolak bala dan dijadikan kiasan Sebagai suami yang siap melaut untuk mencari nafkah. Sedangkan potongan balok lunas bagian belakang disimpan di rumah, dikiaskan sebagai istri pelaut yang dengan setia menunggu suami pulang dan membawa rezeki.

Pemasangan papan pengapit lunas, disertai dengan upacara Kalebiseang. Upacara Anjarreki yaitu untuk penguatan lunas, disusul dengan penyusunan papan dari bawah dengan ukuran lebar yang terkecil sampai keatas dengan ukuran yang terlebar. Jumlah seluruh papan dasar untuk perahu pinisi adalah 126 lembar. Setelah papan teras tersusun, diteruskan dengan pemasangan buritan tempat meletakkan kemudi bagian bawah.

Apabila badan perahu sudah selesai dikerjakan, dilanjutkan dengan pekerjaan a’panisi, yaitu memasukkan majun pada sela papan. Untuk merekat sambungan papan supaya kuat, digunakan sejenis kulit pohon barruk. Selanjutnya, dilakukan allepa, yaitu mendempul. Bahan dempul terbuat dari campuran kapur dan minyak kelapa. Campuran tersebut diaduk Selama 12 jam, dikerjakan sedikitnya 6 orang. Untuk kapal 100 ton, diperlukan 20 kg dempul badan kapal. Sentuhan terakhir adalah menggosok dempul dengan kulit pepaya.

Proses terakhir kelahiran pinisi adalan peluncurannya. Upacara selamatan diadakan lagi. Peluncuran kapal diawali dengan upacara adat Appasili yaitu ritual yang bertujuan untuk menolak bala. Kelengkapan upacara berupa seikat dedaunan yang terdiri dari daun sidinging, sinrolo, taha tinappasa, taha siri, dan panno-panno yang diikat bersama pimping. Dedaunan dimasukkan ke dalam air dan kemudian dipercikkan dengan cara dikibas-kibaskan ke sekeliling perahu. Untuk perahu dengan bobot kurang dan 100 ton, biasanya dipotong seekor kambing. Sedangkan untuk kapal 100 ton keatas, dipotong seekor sapi,setelah dipotong kaki depan kambing atau sapi dipotong bagian lutut kebawah di gantung di anjungan sedangkan kaki belakang di gantung di buritan phinisi maknanya memudahkan saat peluncurannya seperti jalannya binatang secara normal. Selanjutnya ada upacara Ammossi yaitu upacara pemberian pusat pada pertengahan lunas perahu dan setelah itu perahu ditarik ke laut. Pemberian pusat ini merupakan istilah yang didasarkan pada kepercayaan bahwa perahu ialah 'anak' punggawa atau Panrita Lopi sehingga dengan demikian berdasarkan kepercayaan maka upacara ammossi merupakan simbol pemotongan tali pusar bayi yang baru lahir. Ketika pinisi sudah mengapung di laut, barulah dipasang layar dan dua tiang. Layarnya berjumlah tujuh. Kapal yang diluncurkan biasanya sudah siap dengan awaknya. Peluncuran kapal dilaksanakan pada waktu air pasang dan matahari sedang naik. Punggawa alias kepala tukang, sebagai pelaksana utama upacara tersebut, duduk di sebelah kiri lunas. Doa atau tepatnya mantra pun diucapkan.

Jenis Perahu Pinisi

Ada beberapa jenis kapal pinisi, namun yang pada umumnya pinisi ada 2 jenis :
Lamba atau lambo. Pinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan sekarang dilengkapi dengan motor diesel (PLM).
Palari. adalah bentuk awal pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamba.


Di era globalisasi pinisi sebagai kapal barang berubah fungsi menjadi kapal pesiar mewah komersial maupun ekspedisi yang dibiayai oleh investor lokal dan luar negeri, dengan interior mewah dan dilengkapi dengan peralatan menyelam, permainan air untuk wisata bahari dan awak yang terlatih dan diperkuat dengan teknik modern. Salah satu contoh kapal pesiar mewah terbaru adalah Silolona berlayar di bawah bendara.

Kapal pinisi juga menjadi lambang untuk gerakan WWF yaitu #SOSharks, program pelestarian ikan hiu dari WWF, dan pernah digunakan oleh perusahaan terkenal di Indonesia yaitu Bank BNI.


Sumber : http://id.wikipedia.org/
Published: By: Anak Rantau - 19.50

Bugis Disumatra

Penyebab merantau

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.


Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia

Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Di sini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor & selangor yang merupakan keturunan Luwu.
Published: By: Anak Rantau - 08.29

Masa Raja Sulawesi

Kerajaan Sulawesi




Kerajaan Bone

Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat

Kerajaan Makassar

Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar (Gowa) kemudian mendirikan kerajaan pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar (Gowa).

Kerajaan Soppeng

Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

Kerajaan Wajo

Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabbi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Kerajaan pra-wajo yakni Cinnongtabi dipimpin oleh masing-masing : La Paukke Arung Cinnotabi I, We Panangngareng Arung Cinnotabi II, We Tenrisui Arung Cinnotabi III, La Patiroi Arung Cinnotabi IV. setelahnya, kedua putranya menjabat sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V yakni La Tenribali dan La Tenritippe. Setelah mengalami masa krisis, sisa-sisa pejabat kerajaan Cinnotabi dan rakyatnya bersepakat memilih La Tenribali sebagai raja mereka dan mendirikan kerajaan baru yaitu Wajo. adapun rajanya bergelar Batara Wajo.
Wajo dipimpin oleh, La Tenribali Batara Wajo I (bekas arung cinnotabi V), kemudian La Mataesso Batara Wajo II dan La Pateddungi Batara Wajo III. Pada masanya, terjadi lagi krisis bahkan Batara Wajo III dibunuh. kekosongan kekuasaan menyebabkan lahirnya perjanjian La Paddeppa yang berisi hak-hak kemerdekaan Wajo. setelahnya, gelar raja Wajo bukan lagi Batara Wajo akan tetapi Arung Matowa Wajo hingga adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia @arm

Konflik antar kerajaan

Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut "tellumpoccoe".


Sumber : http://id.wikipedia.org
Published: By: Anak Rantau - 08.00

Asal Kata Bugis

Asal Kata Bugis


Kata Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asiatepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasukLa Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)


Sumber : http://id.wikipedia.org
Published: By: Anak Rantau - 07.57

Suku Bugis

Suku Bugis

Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis.

Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sumatra, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara.


Sumber : http://id.wikipedia.org


Published: By: Anak Rantau - 07.50